Sabtu, 19 Mei 2012
kebudayaan khas Sunda, Jawa Barat
Kebudayaan khas Sunda, Jawa Barat.
Indonesia adalah Negara yang terdiri dari banyak pulau, dimana setiap pulau memiliki suku yang berbeda-beda. Setiap daerah di Indonesia, memiliki kebudayaan dengan ciri khas masing-masing seperti halnya Jawa Barat. Jawa Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia yang ibu kotanya berada di kota Bandung. Perkembangan sejarah menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan Provinsi yang pertama dibentuk di wilayah Indonesia. Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia.
Suku sunda merupakan suku yang terdapat di provinsi Jawa Barat. Budaya Sunda merupakan salah satu kebudayaan Indonesia yang sudah tua. Budaya Sunda dikenal dengan budaya yang sangat menjunjung tinggi sopan santun. Pada umumnya karakter masyarakat sunda ramah tamah, murah senyum, lemah lembut, dan sangat menghormati orang tua. Di dalam bahasa Sunda diajarkan bagaimana menggunakan bahasa halus untuk orang tua.
Kebudayaan Sunda memiliki ciri khas tertentu yang membedakannya dari kebudayaan-kebudayaan lain. Secara umum masyarakat Jawa Barat atau Tatar sunda dikenal dengan masyarakat religious. Kecenderungan ini tampak sebagaimana dalam pameo “silih asih, silih asah, silih asuh” yang berarti saling mengasihi, saling mempertajam, dan saling melindungi. Pada kebudayaan sunda, keseimbangan magis dipertahankan dengan cara melakukan upacara-upacara adat. Sedangkan keseimbangan sosial, masyarakat sunda melakukan gotong royong untuk mempertahankannya.
Etos dan watak Sunda itu adalah cageur, bageur, singer, dan pinter. Kebudayaan Sunda juga merupakan salah satu kebudayaan yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia yang dalam perkembangannya perlu dilestarikan. Budaya Sunda memiliki banyak kesenian. Diantaranya adalah kesenian sisingaan, tarian khas Sunda, wayang golek, permainan anak kecil yang khas, dan alat musik khas sunda.
alat musik tradisional Sunda
Alat musik tradisional khas Sunda
Alat musik menjadi ciri khas kesenian yang berasal dari suatu daerah. Alat musik dari Jawa Barat menjadi satu dari sekian banyak alat music tradisional lainnya di Indonesia. Terdapat berbagai macam alat musik yang berasal dari daerah Jawa Barat, seperti Angklung, Degung, Calung, Kecapi Suling, dan Rampak Gendang.
• Angklung
Angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat berbahasa Sunda di Jawa Barat. Alat music ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Bunyi tersebut disebabkan oleh benturan badan pipa bambu. Angklung terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia dari UNESCO sejak November 2010.
• Degung
Degung merupakan sebuah kesenian Sunda yang biasanya dimainkan pada acara hajatan. Kesenian degung ini digunakan sebagai music pengiring/pengantar. Degung merupakan gabungan dari peralatan music khas Jawa Barat, yaitu: gendang, goong, kempul, saron, boning, kecapi, suling, rebab, dan sebagainya. Degung merupakan salah satu kesenian yang paling populer di Jawa Barat, karena iringan music degung ini selalu digunakan dalam setiap acara hajatan yang masih menganut adat tradisional. Selain itu, music degung juga digunakan sebagai music pengiring hamper pada setiap pertunjukan seni tradisional Jawa Barat lainnya.
• Rampak Gendang
Rampak Gendang merupakan kesenian yang berasal dari Jawa Barat. Rampak Gendang ini adalah permainan menabuh gendang secara bersama-sama dengan menggunakana irama tertentu untuk melakukannya, pada umumnya dimainkan oleh lebih dari empat orang yang telah memiliki kemampuan khusus dalam menabuh gendang. Biasanya Rampak Gendang ini diadakan pada acara pesta atau ritual.
• Calung
Calung adalah kesenian daerah Jawa Barat yang dibawakan dengan cara memukul atau mengetuk bambu yang telah dipotong dan dibentuk sedemikian rupa dengan pemukul/pentungan kecil sehingga menghasilkan nada-nada yang khas. Biasanya Calung ini ditampilkan dengan dibawakan oleh Lima orang atau lebih. Calung biasanya digunakan sebagai pengiring nyanyian Sunda atau pengiring dalam lawakan.
• Kecapi Suling
Kecapi Suling adalah kesenian yang berasal dari daerah Jawa Barat, yaitu permainan alat music tradisional yang hanya menggunakan Kecapi dan Suling. Kecapi Sulingbiasanya digunakan untuk mengiringi nyanyian Sunda yang pada umumnya nyanyian atau lagunya dibawakan oleh seorang penyanyi perempuan yang disebut Sinden.
Kamis, 03 Mei 2012
Salah satu kesenian khas Sunda
Sisingaan, salah satu kesenian khas Sunda
Sisingaan atau gotong singa dikenal juga sebagai odong-odong, merupakan salah satu jenis seni pertunjukan rakyat Jawa Barat, khas kota Subang. Berupa keterampilan memainkan tandu berisi boneka singa berpenunggang. Pertunjukkan sisingaan pada dasarnya dimulai dengan tabuhan musik yang dinamis. Lalu diikuti oleh permainan sisingaan oleh penari pengusung sisingaan. Sebagai seni Helaran, Sisingaan bergerak terus mengelilingi kampung, desa, atau jalanan kota sampai akhirnya kembali ketempat semula. Di dalam perkembangannya, music pengiring lebih dinamis dan melahirkan music Genjring Bonyok dan juga Tardug.
Terdapat beberapa keterangan tentang asal-usul Sisingaan ini, diantaranya bahwa Sisingaan memiliki hubungan dengan bentuk perlawanan rakyat terhadap penjajah lewat binatang singa kembar (Singa kembar lambing penjajah Belanda) yang pada waktu itu hanya punya sisa waktu luang dua hari dalam seminggu. Keterangan lain dikaitkan dengan semangat menampilkan jenis kesenian di Anjungan Jawa Barat sekitar tahun 70-an, ketika Bupati Subang dipegang oleh Pak Atju. Pada waktu itu RAF (Rachmatullah Ading Affandi) yang juga tengah berdinas di Subang, karena ia dikenal sebagai seniman dan budayawan dimintakan kitanya. Dalam prosesnyya itu, akhirnya ditampilkanlah Gotong Singa atau Sisingaan yang dalam bentuknya masih sederhana, termasuk music pengiring dan kostum penari pengusung sisingaan. Ternyata sambutan masyarakat sangat luar biasa, sejak itu Sisingaan dikenal oleh masyarakat.
Dalam perkembangaan bentuk Sisingaan dari bentuk singa kembar yang sederhana, semakin lama disempurnakan baik bahan maupun rupanya yang semakin gagah dan menarik. Demikian juga kostum para pengusung Sisingaan yang semakin dibuat glamour dengan warna-warna kontras dan menyolok. Penyebaran Sisingaan sangat cepat di beberapa daerah di luar Subang, seperti Sumedang, Bandung, Purwakarta, dll.
Sisingaan menjadi salah satu jenis pertunjukkan rakyat yang disukai, terutama dalam acara-acara khitanan dan perkawinan. Sebagai seni helaran yang unggul, Sisingaan dikemas sedemikian rupa dengan penambahan berbagai atraksi, misalnya yang paling menonjol adalah Jajangkungan dengan tampilan manusia-manusia yang tinggi menjangkau langit, sekitar 3-4 meter, serta ditambahkan dengan bunyi-bunyian petasan yang dipasang dalam bentuk sebuah senapan.
Tarian Tradisional khas Sunda
Tarian khas Sunda
Jaipongan adalah sebuah jenis tari pergaulan tradisional masyarakat Sunda, Jawa Barat yang cukup popular di Indonesia. Tarian tradisional dari Jawa Barat ini biasanya menampilkan penari dengan menggunakan pakaian khas Jawa Barat yang disebut kebaya, serta diiringi musik tradisional Jawa Barat yang disebut Jaipong. Jaipong biasanya dimainkan oleh satu orang atau sekelompok penari yang menarikan gerakan-gerakan khas Jaipong.
Jaipongan adalah sebuah genre seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharaan pola-pola gerak tari tradisi yanga ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun, dan beberapa ragam gerak minced dari beberapa kesenian diatas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan.
Sebagai tarian pergaulan, tari Jaipong berhasil dikembangkan oleh Seniman Sunda menjadi tarian yang memasyarakat dan sangat digemari oleh masyarakat Jawa Barat khususnya, bahkan tari Jaipong ini pun populer sampai daerah di luar Jawa Barat. Jaipongan sesungguhnya tak hanya akan mengingatkan orang pada sejenis tradisi Sunda yang atraktif dengan gerak yang dinamis. Tangan, bahu, dan pinggul selalu menjadi bagian dominan dalam pola gerak yang lincah, diiringi oleh pukulan kendang. Terutama pada penari perempuan, seluruhnya itu selalu dibarengi dengan senyum manis dan kerlingan mata.
Tarian ini mulai dikenal luas sejak tahun 1970-an. Kemunculan tarian karya Gugum Gumbira pada awalnya disebut Ketuk Tilu perkembangan yang memang karena dasar tarian itu merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu. Karya pertama Gugum Gumbira masih sangat kental dengan warna ibing Ketuk Tilu, baik dari segi koreografi maupun iringannya, yang kemudian tarian itu menjadi populer dengan sebutan Jaipongan.
Wayang Golek
Wayang Golek
Wayang adalah seni pertunjukkan asli Indonesia yang berkembang pesat di Pulau Jawa dan Bali. Wayang Golek adalah salah satu pertunjukkan wayang yang terbuat dari boneka kayu yang terutama sangat populer di wilayah Tanah Pasundan. Pertunjukkan ini mulai dipopuerkan di Tanah Jawa oleh Sunan Kudus.
Wayang adalah bentuk teater rakyat yang sangat populer. Orang sering menghubungkan kata “wayang” dengan “baying”, karena dilihat dari pertunjukkan wayang kulit yang memakai layar, dimana muncul bayangan-bayangan. Di Jawa Barat, selain wayang kulit, yang paling populer adalah wayang golek. Wayang golek ada dua macam diantaranya wayang golek papak (cepak) dan wayang golek purwa yang ada di daerah Sunda. Kecuali wayang wong (wayang orang), dari semua wayang itu dimainkan oleh seorang dalang sebagai pemimpin pertunjukkan yang sekaligus menyanyikan suluk, menyuarakan antawacana, mengatur gamelan, mengatur lagu dan lain-lain.
Sebagaimana alur cerita pewayangan pada umumnya, dalam pertunjukkan wayang golek juga biasanya memilikinlakon-lakon baik galur maupun carangan yang bersumber dari cerita Ramayana dan Mahabrata dengan menggunakan bahasa Sunda dengan iringan gamelan Sunda (salendro). Sejak tahun 1920-an, selama pertunjukkan wayang golek diiringi oleh sinden. Popularitas sinden pada masa-masa itu sangat tinggi sehingga mengalahkan popularitas dalang wayang golek itu sendiri.
Wayang golek saat ini lebih dominan sebagai seni pertunjukkan rakyat yang memilki fungsi yang relevan dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat lingkungannya, baik kebutuhan spiritual maupun material. Hal demikian dapat kita lihat dari beberapa kegiatan di masyarakat misalnya ketika ada perayaan, baik hajatan (pesta kenduri) dalam rangka khitanan, pernikahan dan lain-lain adakalanya diiringi dengan pertunjukkan wayang golek.
Selasa, 01 Mei 2012
Tangkuban Perahu (tugas pariwisata)
Name : Yuli Octavia
NPM : 15609745
Class: 3SA02
TANGKUBAN PERAHU
CHAPTER I
Introduction
Bandung is the capital of West Java province at once the third largest metropolitan city in Indonesia after Jakarta and Surabaya. Located about 180 kilometers southeast of Jakarta, at an altitude 768 meters (2,520 ft) above sea level and the city lies on a river basin surrounded by volcanic mountains. Bandung has cooler temperatures all year-round than most other Indonesian cities.
Bandung city drained the two main rivers, the Cikapundung river and Citarum river and its tributaries which generally flows to the south and meet at the Citarum river. With such conditions, South Bandung is very susceptible to flooding problems, especially during the rainy season. Bandung is the most populous city in West Java, where the population is dominated by ethnic of Sundanese, while Javanese the largest minority population in this city compared to other ethnic groups.
The northern part of the city is hillier than the rest; the distinguished truncated flat-peak shape of the Tangkuban Perahu volcano can be seen from the city to the north. Long-term volcanic activity has created fertile andisol soil in the north, suitable for intensive rice, fruit, tea, tobacco and coffee plantations. In the south and east, alluvial soils deposited by the Cikapundung river are mostly found. There are many attractions in Bandung and one of them is Tangkuban Perahu Mountain.
CHAPTER II
DISCUSSION
Tangkuban Parahu or Tangkuban Perahu Mountain is one of the mountains which located in the province of West Java, Indonesia. About 20 km to the north of Bandung, with a lush carpet of pine trees and tea plantations in the surrounding mountains as high as Tangkuban Perahu has 2084 meters altitude. These mountains form is Stratovulcano the center of the eruption that moves from east to west. Rock types are mostly issued by the eruption of lava and sulfur, minerals which released when mountain is active is sulfur brimstone, and when the mountain is not active is sulfur vapor. Tangkuban Perahu Mountain area is managed by the Forestry Housing. The average daily temperature is 17oC during the day and 2oC at night.
According to the geological history, Tangkuban Perahu formed from recurring eruption activities of Volcano in prehistoric Sunda. Record of the eruption in last two centuries is in 1829, 1846, 1862, 1887, 1896, 1910, and 1929.
Based on the local folk legends, the origins of Mount Tangkuban Perahu associated with the legend of Sangkuriang, narrated in love with his mother, Dayang Sumbi. To thwart the intention of marrying his son, Dayang Sumbi stipulating Sangkuriang to makes the boat overnight. When his efforts failed, Sangkuriang angry and kicked the boat, so it landed in state of upside down. Then the boat formed Mount Tangkuban Perahu.
Tangkuban Perahu includes an active volcano whose status is being watched by the Directorate of Volcanology Indonesia. Some of the crater is still showing signs activity of this mountain. Among these signs is the appearance of volcanic gas sulfur and hot springs at the foot of the mountain include in the region Ciater, Subang.
The existence of this mountain and the form of the Bandung topography with hills and mountain on each side to strengthen the thory of the existence of a lake (crater) is now a major area of Bandung. Believed by geologist that the highlands Bandung with a height of approximately 709 meters above sea level are the remnants of ancient volcanoes known as Mount Sunda, and Tangkuban Perahu is the remainder of ancient mount Sunda which still active.
CHAPTER III
CONCLUSION
Bandung is the capital of West Java province as well as the largest metropolitan city in West Java. Drained by the two main rivers, Cikapundung and Citarum river, also surrounded by the mountains, one of them is Mount Tangkuban Perahu. Mount of Tangkuban Perahu is one of the mainstay nature attractions tatar Parahyangan located in Bandung regency of West Java. The volcano which still active is situated at an altitude of 2084 meters above sea level. The shape of Mount Tangkuban Perahu quite unique, because its unique shape able to attract many visitors or tourist. Tourist who come are very interested to see the crater up close. More than that tourist will be treated to a panorama of the surrounding valley which is very beautiful.
Langganan:
Komentar (Atom)
